Jumat, 30 November 2012

Sejarah Piala AFF


Piala Tiger dimulai pada tahun 1996 di Singapura. Pada kejuaraan tersebut pertama digelar, Thailand berhasil merebut juara setelah mengalahkan Malaysia dengan skor 1-0 di final.
Piala Tiger 1998 yang berlangsung di Vietnam melahirkan sebuah kejadian kontroversial di mana pada babak penyisihan, dalam upaya untuk menghindari pertemuan dengan tuan rumah Vietnam di babak berikutnya, Indonesia dan Thailand memainkan sepak bola negatif karena keduanya tidak mempunyai keinginan untuk menang. Ketika skor masih 2-2 menjelang berakhirnya pertandingan, bek Indonesia Mursyid Effendi dengan sengaja mencetak gol bunuh diri dengan menendang bola ke gawangnya sendiri sehingga skor menjadi 3-2 untuk kemenangan Thailand. Kedua tim akhirnya didenda karena telah "merusak semangat sepak bola" dan Mursyid sendiri dilarang bermain dalam sepak bola internasional seumur hidup. Juara pada tahun 1998 adalah Singapura yang mengalahkan Vietnam di babak final dengan skor 1-0..
Pada Piala Tiger 2000 & 2002 terjadi final "el clasico ASEAN" yang semuanya dimenangkan Thailand setelah berturut-turut mengalahkan Indonesia di final. Sejak Piala Tiger 2002Piala Tiger mulai diselenggarakan di dua negara.
Pada Piala Tiger 2004, babak semifinal dan final mulai diselenggarakan dengan sistem tandang-kandang untuk lebih memopulerkan kejuaraan ini. Piala Tiger kali ini juga mencatat keikut sertaan Timor Leste dalam kejuaraan ini untuk pertama kalinya. Piala Tiger 2004 direbut Singapura yang mengalahkan Indonesia di final kandang dan tandang.
Kejuaraan Sepak Bola ASEAN 2007 diadakan di Singapura dan Thailand dan kembali dijuarai Singapura setelah mengalahkan Thailand pada final di kandang Singapura dan bermain imbang di kandang Thailand.
Piala Suzuki AFF 2008 diadakan di Indonesia dan Thailand yang kali ini dijuarai Vietnam yang mengalahkan Thailand pada final di kandang Thailand dan bermain imbang di kandang Vietnam.
Piala Suzuki AFF 2010 kembali diadakan di Indonesia bersama dengan Vietnam. Pada edisi ini, juara bertahan Vietnam gagal mempertahankan gelarnya, di mana Malaysiamenjadi juara, setelah mengalahkan Indonesia dengan agregat skor 4-2 (menang 3-0 di Stadion Nasional Bukit Jalil, Malaysia, kemudian kalah 1-2 di kandang Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno).

Rabu, 22 Agustus 2012

Leopard 2

Leopard 2
Leopard 2 A5 der Bundeswehr.jpg
The Leopard 2A5 (Data pada 2A6)
TipeTank tempur utama
Negara asal Jerman Barat
Sejarah pemakaian
Masa penggunaan1979-sekarang
Pada perangPerang Kosovo, Perang Afghanistan
Sejarah produksi
PerancangKrauss-Maffei
Tahun1970-an
ProdusenKrauss-Maffei Wegmann
Maschinenbau Kiel
Biaya produksi2A6: US$5.74+ juta (2007)
Diproduksi1979-sekarang
Spesifikasi
Berat62,3 ton
Panjang997 m (39,300 in) (total)
Lebar375 m (14,800 in)
Tinggi30 m (1,200 in)
Awak4

TempurKomposit Generasi Ke-3; termasuk baja yang diperkeras, tungsten dan plastic filler dengan komponen keramik.
Senjata
utama
1 x 120 mm Rheinmetall L55smoothbore gun. 42 rounds
Senjata
pelengkap
2 x 7.62 mm MG3A1 4,750 rounds
Jenis MesinMTU MB 873 Ka-501 liquid-cooled V-12 Twin-turbo mesin diesel
1.500 PS (1,479 hp, 1,103 kW) pada 2600 rpm
Daya kuda/tonTemplat:Convert/PS/t
TransmisiRenk HSWL 354
SuspensiTorsion-bar suspension
Kapasitas tangki1.200 liter
Daya jelajah550 km (340 mil) (bahan bakar internal)
Kecepatan72 km/j (45 mph)

Leopard 2 adalah tank tempur utama (main battle tank, MBT) Jerman yang dikembangkan oleh Krauss-Maffei pada awal 1970-an dan mulai digunakan pada 1979. Leopard 2 menggantikan Leopard 1 sebagai tank tempur utama Angkatan Darat Jerman (). Beragam versi telah digunakan oleh Angkatan Darat Jerman dan di 12 negara Eropa lainnya, beberapa dari luar Eropa. Lebih dari 3,480 Leopard 2 telah diproduksi. Leopard 2 pertama kali digunakan Angkatan Darat Jerman padaPerang Kosovo serta pasukan Kanada dan Denmark yang tergabung dalam ISAF di medan tempur Afghanistan.
Ada dua pengembangan utama pada tank ini, dari model pertama hingga Leopard 2A4 yang memiliki kubah tembak vertikal berlapis baja dan model yang lebih maju Leopard 2A5 serta versi yang lebih baru lagi, yang memiliki kubah tembak menyudut seperti anak panah dengan appliqué armour serta beberapa pengembangan lainnya. Seluruh model dilengkapi dengan sistem pengontrol penembakan digital dan rangefinder Laser, meriam utama 120 mm dengan kestabilan tinggi, senapan mesin koaksial, serta perlengkapan untuk melihat dan membidik dalam kegelapan night visionyang lebih maju (Leopard adalah kendaraan tempur pertama yang menggunakan alat pembidik low-light level TV systematau LLLTV; sementara thermal imaging baru diperkenalkan setelah itu). Tank ini memiliki kemampuan untuk bertempur menghadapi sasaran bergerak walaupun melewati medan yang sangat sulit dan tidak rata. Varian yang aktif antara lain 2A4, 2A5, 2A6, dan 2A7 (paling baru). Banyak Leopard 2 yang diupgrade untuk memperpanjang masa tugasnya dan memperkuat persenjataanya, umumnya ke varian 2A5 dan 2A6.

Sejarah

[sunting]Pengembangan

Meski Leopard 1 mulai digunakan pada 1965, versi yang persenjataannya diperberat yakni meriam Rheinmetall L44 120 mm memang dipertimbangkan untuk menyaingi disain tank Uni Soviet, namun kemudian dibatalkan setelah ada proyek bersama dengan Amerika Serikat yakni "super-tank" MBT-70. Tank MBT-70 memang merupakan disain yang revolusioner, tetapi mengingat biayanya yang sangat mahal, Jerman mengundurkan diri dari proyek ini pada 1969.
Program nasional mulai dijalankan pada 1970 oleh Krauss-Maffei. Setahun kemudian diputuskan bahwa model tank yang akan dibuat harus didasarkan pada model sebelumnya Experimentalentwicklung (kemudian disebut sebagai proyek Keiler) dari tahun-tahun enampuluhan (yang sebenarnya diambil dari apa yang disebut sebagai vergoldeter Leopard atau "Leopard yang disepuh emas"), bukannya modifikasi dari MBT-70 atau Eber. Disain baru yang dibuat pada 1971 itu disebut sebagai "Leopard 2" mengingat Leopard yang asli kemudian disebut sebagai Leopard 1. Sebanyak 17 prototip dipesan pada tahun itu (meski hanya 16 yang akhirnya jadi. Kendaraan itu harus seberat limapuluh metrik ton.
Pada 11 December 1974 pemerintah Jerman dan Amerika Serikat menandatangani sebuah Memorandum of Understanding tentang kemungkinan dilaksanakannya kerjasama produksi MBT baru setelah Amerika Serikat membeli dan melakukan penelitian terhadap prototip lambung nomer 7 pada 1973. Dengan melihat pengalaman perang Yom Kippurmemang diperlukan sebuah lapisan pelindung baja yang kualitasnya lebih baik pada prototip-prototip ini, yakni dengan menggunakan lapisan baja yang sangat miring. Kelas kendaraan ini meningkat menjadi enapuluh ton. Prototip Kubah Nomer 14 diubah bentuknya menjadi lebih gemuk untuk mencoba konfigurasi lapisan baja yang lebih baru,sebagai akibat digunakannya lapisan pelindung baja berperforasi yang vertikal. Kubahnya menjadi lebih luas daripada kubah Leopard 1 karena adanya ruang penyimpanan amunisi yang lebih besar di bagian belakang. Leopard 2 sudah menggunakan lapisan baja pelindung berperforasi perforated armour, dan bukan Chobham armourseperti yang pernah diklaim sebelumnya. PT-14 menggunakan meriam 120 mm Rheinmetall yang dipakai juga oleh tank Amerika Serikat M1 Abrams. Kemudian dipesan juga dua prototip lambung baru dan tiga tipe kubah, satu kubah (PT-20) dilengkapi meriam 105 mm dengan sistem kontrol penembakan fire control system Hughes, PT-19 dengan sistem kontrol penembakan yang sama, tetapi bisa ditukar dengan meriam Rheinmetall 120 mm (yang memang diganti oleh pihak Amerika Serikat), dan satu lagi (PT-21) dengan sistem kontrol penembakan buatan Hughes-Krupp, Atlas Elektronik EMES 13, yang mengendalikan meriam 120 mm.
Leopard 2 Prototip (pre-series) PT 19 (1978)

[error]Operator

NegaraJumlah UnitKeterangan
 Austria114 unitex Belanda
 Belanda445 unitBanyak yang dijual pasca Perang Dingin, 82 aktif dan 26 di penyimpanan, ditambah 1 unit dalam kondisi rusak. Pada 8 April 2011, Menteri Pertahanan Belanda mengumumkan bahwa divisi tank Belanda akan dibubarkan akibat pemotongan anggaran besar-besaran dan semua tank Belanda akan dijual[1]
 Kanada120 unit20 diantaranya disewa dari Jerman untuk Perang Afghanistan[2], 15 lagi dibeli dari Jerman untuk suku cadang[3]
 Chili132 unitex Jerman[4]
 Denmark51 unitex Jerman[5]
 Finlandia124 unitex Jerman.[6]
 Indonesia100 unitLeopard 2A6, pembelian baru [7]
 Jerman2.350 unitsemua varian. Banyak yang dijual ke negara lain pasca Perang Dingin atau disimpan. 408 unitaktif di AD Jerman[8]
 Norwegia52 unitex Belanda
 Polandia128 unitex Jerman
 Portugal37 unitex Belanda
 Singapura96 unitex Jerman, termasuk 30 lainnya sebagai suku cadang
 Spanyol327 unit108 ex Jerman, sisanya baru
 Swedia120 unitditambah 160 unit ex Jerman (tidak operasional)
 Swiss380 unit
 Turki339 unitex Jerman
 Yunani353 unit(183 ex Jerman, sisanya baru)

KRI Teluk Mandar (514)


KRI Teluk Mandar (514) adalah kapal perang TNI AL LST kelas Teluk Semangka, yang merupakan jenis kapal pendarat (LST (Landing Ship Tank)) kelas Tacoma. KRI Teluk Mandar ini dibangun oleh perusahaan Korea-Tacoma SY, Masan,Korea Selatan pada tahun 1981.
Kapal lain dalam kelas yang sama adalah KRI Teluk Semangka (512), KRI Teluk Penyu (513), KRI Teluk Sampit (515), KRI Teluk Banten (516), dan KRI Teluk Ende (517)
KRI Teluk Mandar mempunyai 117 orang awak kapal termasuk perwira. KRI Teluk Mandar dilengkapi oleh pengangkut tentara dan mampu membawa 202 tentara infantri.
Kapal KRI Teluk Mandar mempunyai panjang 100 m X 15.4 X 4.2m (328 X 50.5 X 13.7 kaki) dan mempunyai kecepatan 15 knot. KRI Teluk Mandar mempunyai berat sebesar 3,770 ton. Kapal ini mampu membawa kargo sebanyak 1,800 ton atau 690 ton untuk misi pendaratan.
KRI Teluk Mandar juga memiliki dek helikopter pada bagian belakang untuk operasi udara.

[Eror]Mesin

Kapal KRI Teluk Mandar mempunyai dua mesin diesel yang disambungkan pada dua motor yang menghasilkan daya 5,600 HP dengan kecepatan tempur 15 knot.
KRI Teluk MandarKRI Teluk Mandar dengan nomor lambung 514
Karir (ID)Bendera Indonesia
ProduksiKorea-Tacoma SY, Masan, Korea Selatan
Mulai dibuat1981
Diluncurkan
Status
Pelabuhan utamaArmada Barat TNI-AL
Karakteristik umum
Berat benaman3,770 ton standar
5.570 ton beban penuh
Panjang1002 m (328 ft)
Lebar15,4 m (50,5 ft)
Draft4,2 m (13,7 ft)
Tenaga penggerak2 shaft Diesel, 5.600 hp
Kecepatan15 knot
Awak kapal117 orang
Persenjataan3 x 40mm Senapan mesin
2 x 20mm Senapan Mesin
2 x 12,7mm Senapan Mesin

KRI Singa (651)


KRI Singa (651) merupakan kapal kedua dari kapal perang jenis Kapal Patroli Kelas Andau Bertugas sebagai elemen pemukul musuh, baik di permukaan maupun bawah permukaan (ASW - Anti Submarine Warfare) termasuk sebagai kapal pendeteksi anti-Kapal Selam. Termasuk dalam kelas Andau antara lain KRI Andau (650), KRI Tongkak (652) dan KRI Ajak (653).milik TNI AL. Merupakan jenis kapal cepat torpedo (KCT).

Karir (ID)
Bendera Indonesia
ProduksiPAL INDONESIA, Surabaya
Mulai dibuat
Diluncurkan
StatusMasih bertugas
Pelabuhan utamaArmada Timur AL
Karakteristik umum
Berat benaman445 ton (muatan penuh)
Panjang5.810 m (19,061.68 kaki)
Lebar76 m (249.34 kaki)
Draught295 m (967.85 kaki)
Tenaga penggerak2 x MTU 60V 956 TB92
Kecepatan27 knot (maksimum)
15 knot (ekonomis)
Jarak tempuh2.200 nm pada 27 knot
6.000 nm pada 15 knot
Awak kapal42 orang
PersenjataanTorpedo Ø 533 millimetre (20.98 in)

Sejarah

[sunting]Pembangunan

KRI Singa yang dibangun pada tahun 1988 merupakan kapal kedua dalam seri FPB-57 Nav II yang mana sebagian lambung kapal dan peralatannya dibuat di Lurssen, Jerman, dan dipasang di PT. PAL, Surabaya.
KRI ini merupakan jenis Kapal Cepat Torpedo (KCT) untuk menghadapi perang di bawah air (Anti Submarine Warfare) yang dilengkapi dengan torpedo berpemandu AEG SUT (Surface & Underwater Target). Pada tahun 1988, KRI Singa masuk sebagai bagian dari Satuan Kapal Cepat Armada Timur TNI-AL, Surabaya.

[sunting]Kapal

[sunting]Data teknis

Kapal ini memiliki panjang 58,1 meter, lebar 7,6 meter, dan draught 2,95 m. Pada beban penuh memiliki bobot 445 ton. Memiliki dua mesin diesel MTU 60V 956 TB92 yang memiliki kecepatan maksimal 27 knot dengan daya jelajah 2.200 milpada kecepatan 27 knot, atau 6.000 mil pada kecepatan 15 knot.

[sunting]Persenjataan

  1. Dua tabung peluncur torpedo Ø 533 millimetre (20.98 in), dibekali dengan torpedo berpemandu AEG SUT (Surface & Underwater Target) yang pada kecepatan 23 knot torpedo ini dapat menghantam target berjarak 28 km,
  2. Satu Meriam Bofors SAK 57/70 berkaliber 57mm dengan kecepatan tembakan 200 rpm, jangkauan 17 Km untuk target permukaan dan udara dengan pemandu tembakan Signal LIROD Mk. 2.
  3. Satu Meriam Bofors SAK 40/70 berkaliber 40mm dengan kecepatan tembakan 300 rpm, jangkauan 12 Km untuk target permukaan dan udara.
  4. Dua kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 km untuk target udara.

[sunting]Sensor dan elektronis

  1. Sonar PHS-32 hull mounted MF
  2. Pengontrol tembakan DR-2000 S3 intercept
  3. Radar permukaan Racal Decca/Signaal Scout
  4. Pengumpan (Countermeasures) Dagie decoy RL


Selasa, 21 Agustus 2012

Spesifikasi Lengkap F-16 Fighting Falcon (Pesawat Tempur Terlaris)

F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat. Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan
sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.
F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.
Pada tahun 1993, General Dynamics menjual bisnis produksi pesawat mereka kepada Lockheed Corporation, yang kemudian menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995.

F-16 Fighting Falcon



F-16 pada Perang Irak, Maret 2003.
 TipePesawat tempur
 ProdusenGeneral Dynamics
Lockheed Martin
 Terbang perdana2 Februari 1974
 Diperkenalkan17 Agustus 1978
 StatusAktif
 PenggunaAmerika Serikat
24 negara lainnya
 Jumlah produksiLebih dari 4.000
 Harga satuanUS$18,8 juta (1998)
 VarianGeneral Dynamics F-16XL
Mitsubishi F-2





Sejarah
F-16 Fighting Falcon
Lainnya...

Kemampuan F-16
Pada tahun 1960-an, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyimpulkan bahwa masa depan pertempuran udara akan ditentukan oleh peluru kendali yang semakin modern. Dan bahwa pesawat tempur masa depan akan digunakan untuk mengejaran jarak jauh, berkecepatan tinggi, dan menggunakan sistem radar yang sangat kuat untuk mendeteksi musuh dari kejauhan. Ini membuat desain pesawat tempur masa ini lebih seperti interseptor daripada pesawat tempur klasik. Pada saat itu, Amerika Serikat menganggap pesawat F-111 (yang pada saat itu masih dalam tahap pengembangan) dan F-4 Phantom akan cukup untuk kebutuhan pesawat tempur jarak jauh dan menengah, dan didukung oleh pesawat jarak dekat bermesin tunggal seperti F-100 Super Sabre, F-104 Starfighter, dan F-8 Crusader.


A United Arab Emirates Air Force F-16E Block 60 taking off after taxiing out of theLockheed Martin plant in Fort Worth, Texas.


Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat menyadari bahwa masih banyak kelemahan pada pesawat-pesawat mereka. Peluru kendali udara ke udara pada masa itu masih memiliki banyak masalah, dan pemakaiannya juga dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Selain itu, pertempuran di udara lebih banyak berbentuk pertempuran jarak dekat dimana kelincahan di udara dan senjata jarak dekat sangat diperlukan.
Kolonel John Boyd mengembangkan teori tentang perawatan energi pada pertempuran pesawat tempur, yang bergantung pada sayap yang besar untuk bisa melakukan manuver udara yang baik. Sayap yang lebih besar akan menghasilkan gesekan yang lebih besar saat terbang, dan biasanya menghasilkan jarak jangkau yang lebih sedikit dan kecepatan maksimum yang lebih kecil. Boyd menganggap pengorbanan jarak dan kecepatan perlu untuk menghasilkan pesawat yang bisa bermanuver dengan baik. Pada saat yang sama, pengembangan F-111 menemui banyak masalah, yang mengakibatkan pembatalannya, dan munculnya desain baru, yaitu F-14 Tomcat. Dorongan Boyd tentang pentingnya pesawat yang lincah, gagalnya program F-111, dan munculnya informasi tentang MiG-25 yang saat itu kemampuan dibesar-besarkan membuat Angkatan Udara Amerika Serikat memulai perancangan pesawat mereka sendiri, yang akhirnya menghasilkan F-15 Eagle.



Testing of the F-35 DiverterlessSupersonic Inlet on an F-16 testbed. The original intake is shown in the top image.


Pada saat pengembangannya, F-15 berevolusi menjadi besar dan berat seperti F-111. Ini membuat Boyd frustrasi dan ia pun meyakinkan beberapa petinggi Angkatan Udara lain bahwa F-15 membutuhkan dukungan dari pesawat tempur yang lebih ringan. Grup petinggi Angkatan Udara ini menyebut diri mereka "fighter mafia", dan mereka bersikeras akan dibutuhkannya program Pesawat Tempur Ringan (Light Weight Fighter, LWF).
Pada Mei 1971, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang mengkritik tajam program F-14 dan F-15. Kongres mengiyakan pendanaan untuk program LWF sebesar US$50 juta, dengan tambahan $12 juta pada tahun berikutnya. Beberapa perusahaan memberikan proposal, tetapi hanya General Dynamics dan Northrop yang sebelumnya sudah memulai perancangan dipilih untuk memproduksi prototip. Pesawat mereka mulai diuji pada tahun 1974. Program LWF awalnya merupakan program evaluasi tanpa direncanakan pembelian versi produksinya, tetapi akhirnya program ini dirubah namanya menjadi Air Combat Fighter, dan Angkatan Udara AS mengumumkan rencana untuk membeli 650 produk ACF. Pada tanggal 13 Januari 1975 diumumkan bahwa YF-16 General Dynamics mengalahkan saingannya, YF-17.


The YF-16 adalah pesawat pertama di dunia yang sengaja dirancang untuk sedikit aerodinamis tidak stabil. Teknik ini, disebut "stabilitas statis santai" (RSS), didirikan untuk lebih meningkatkan kinerja manuver pesawat. Kebanyakan pesawat dirancang dengan stabilitas statis positif, yang mendorong pesawat untuk kembali ke sikap aslinya berikut gangguan. Ini menghambat manuver, sebagai kecenderungan untuk tetap dalam sikap saat ini menentang upaya pilot untuk manuver, di sisi lain, sebuah pesawat dengan stabilitas statis negatif akan, dengan tidak adanya masukan kontrol, mudah menyimpang dari tingkat dan penerbangan dikendalikan. Oleh karena itu, pesawat dengan stabilitas statis negatif akan lebih banyak bermanuver dari satu yang positif stabil. Ketika supersonik, pesawat negatif stabil sebenarnya pameran yang lebih positif-berarah (dan dalam kasus F-16, jaring positif) stabilitas statis karena pergeseran gaya aerodinamika belakang antara penerbangan subsonik dan supersonik. Pada kecepatan subsonik tempur ini terus di ambang keluar dari kendali.




Mechanics actuating an F-16 exhaust nozzle.


Mekanika Penggerak F-16

Turbofany yang pertama dipilih untuk tunggal F-16 bermesin adalah Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan afterburning, sedikit versi modifikasi dari F100-PW-100 yang digunakan oleh F-15. Rated di 23.830 lbf (106,0 kN) dorong, itu tetap F-16 mesin standar melalui Blok 25, kecuali untuk yang baru-membangun 15s Blok dengan Kemampuan Operasional Upgrade (OCU). Para OCU memperkenalkan 23.770 lbf (105,7 kN) F100-PW-220, yang juga diinstal pada Blok 32 dan 42 pesawat, sedangkan tidak menawarkan perbedaan penting di dorong, itu memperkenalkan Digital Electronic Engine Control (DEEC) unit yang diperbaiki keandalan dan mengurangi risiko kios mesin (kecenderungan sesekali tidak disukai dengan yang asli "-200" yang mengharuskan mesin udara restart). Diperkenalkan pada garis-16 F produksi pada tahun 1988, "-220" juga menggantikan F-15's "-100," demikian memaksimalkan kesamaan. Banyak dari "-220" mesin jet pada Blok 25 dan pesawat kemudian ditingkatkan dari pertengahan 1997 sampai standar "-220E", yang selanjutnya meningkatkan keandalan dan maintainability, termasuk pengurangan 35% dari tingkat mesin terjadwal penghapusan.
Pengembangan F100-PW-220/220E merupakan hasil dari Angkatan Udara program Fighter Alternatif Engine (AFE) (bahasa sehari-hari dikenal sebagai "Mesin Perang Besar"), yang juga melihat masuknya General Electric sebagai F-16 penyedia mesin . F110 Its-GE-100 turbofan dibutuhkan modifikasi inlet F-16; inlet asli terbatas dorong maksimum jet GE untuk 25.735 lbf (114,5 kN), sedangkan Modular baru Common Inlet Duct diperbolehkan F110 untuk mencapai dorong maksimum sebesar 28.984 lbf (128,9 kN) di afterburner. (Untuk membedakan antara pesawat dilengkapi dengan dua mesin dan inlet, dari seri 30 Blok pada, blok berakhiran "0" (misalnya, Blok 30) yang didukung oleh GE, dan blok berakhir di "2" (misalnya, Blok 32) dilengkapi dengan mesin Pratt & Whitney.)
Pengembangan lebih lanjut oleh pesaing di bawah upaya Engine Peningkatan Kinerja (IPE) menyebabkan 29.588 lbf (131,6 kN) F110-GE-129 di Blok 50 dan 29.100 lbf (129,4 kN) F100-PW-229 di Blok 52. F-16 mulai terbang dengan mesin ini IPE pada tanggal 22 Oktober 1991 dan 22 Oktober 1992, masing-masing. Secara keseluruhan, dari 1.446 F-16C/Ds diperintahkan oleh USAF, 556 telah dilengkapi dengan mesin F100-seri dan 890 dengan F110s. ] The United Arab Emirates 'Blok 60 ini didukung oleh turbofan General Electric F110-GE-132 , yang dinilai di dorong maksimum 32.500 lbf (144,6 kN), tertinggi yang pernah dikembangkan untuk pesawat F-16 



F-16CJ-50C from 20 Fighter Wing (Shaw AFB) armed with air-to-air and SEADordnance


Salah satu fitur yang lebih penting dari sudut pandang pilot adalah sudut pandang yang luar biasa luas, sudut pandang F-16 dari kokpit, sebuah fitur yang sangat penting selama udara-untuk memerangi-udara. Potongan-tunggal, gelembung polycarbonate burung-bukti kanopi menyediakan visibilitas 360 ° semua-bulat, dengan sudut 40 ° melihat-down ke sisi pesawat, dan 15 ° ke bawah hidung (dibandingkan dengan yang lebih umum 12-13 ° dari pendahulunya); kursi pilot dipasang pada jalur tumit tinggi untuk mencapai hal ini. Selanjutnya, kanopi F-16 tidak memiliki frame ke depan busur ditemukan pada sebagian besar pejuang, yang menghambat beberapa visi ke depan pilot. (Panjang pengaturan tandem dua-kursi F-16 membutuhkan bingkai struktural antara para pilot.)


F-16 Ground Trainer Cockpit (F-16 MLU version)




The four-vent cannon port on an F-16A

F-16 kokpit juga memiliki head up display (HUD), yang proyek penerbangan visual dan informasi tempur dalam bentuk simbol dan karakter alfanumerik di depan pilot tanpa menghalangi pandangannya. Mampu menjaga kepalanya "keluar dari kokpit" lebih meningkatkan kesadaran situasional pilot apa yang terjadi di sekitar dia  Boeing Joint Helmet Mounted isyarat System (JHMCS). Juga tersedia dari Blok 40 dan seterusnya untuk digunakan dengan tinggi-off -boresight udara-ke-udara rudal seperti AIM-9X. JHMCS izin cuing sistem senjata ke arah di mana kepala pilot menghadap-bahkan luar lapangan HUD pandang-sambil tetap mempertahankan kesadaran situasional nya JHMCS ini. Pertama operasional digunakan selama Operasi 




A U.S. Air Force Thunderbirds pilot ejects from his F-16 at an air show in September 2003

    Varian

    Varian F-16 ditandai oleh nomer blok yang menandakan pembaruan yang signifikan. Blok ini mencakup versi kursi tunggal dan kursi ganda.











    F-16 A/B

    F-16A Norwegia diatas daerah Balkan.

    F-16A Norwegia diatas daerah Balkan.
    F-16 A/B awalnya dilengkapi Westinghouse AN/APG-66 Pulse-doppler radar, Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan, dengan 14.670 lbf (64.9 kN), 23.830 lbf (106,0 kN) dengan afterburner. Angkatan Udara AS membeli 674 F-16A dan 121 F-16B, pengiriman selesai pada Maret 1985.
    Blok 1
    Blok awal (Blok 1/5/10) memiliki relatif sedikit perbedaan. Sebagian besar diperbarui menjadi Blok 10 pada awal 1980-an. Ada 94 Blok 1, 197 Blok 5, dan 312 Blok 10 yang diproduksi. Blok 1 model awal produksi dengan hidung dicat hitam.
    Blok 5
    Diketahui kemudian bahwa hidung hitam menjadi identifikasi visual jarak jauh untuk pesawat Blok 1, sehingga warnanya diubah menjadi abu-abu untuk Blok 5 ini. Pada F-16 Blok 1, ditemukan bahwa air hujan dapat berkumpul pada beberapa titik di badan pesawat, sehingga untuk Blok 5 dibuat lubang saluran air.
    Blok 10
    Pada akhir 1970-an, Uni Soviet secara signifikan mengurangi ekspor titanium, sehingga produsen F-16 mulai menggunakan alumunium. Metode baru pun dilakukan: aluminum disekrup ke permukaan pesawat Blok 10, menggantikan cara pengeleman pada pesawat sebelumnya.
    Blok 15
    Perubahan besar pertama F-16, pesawat Blok 15 ditambahkan stabiliser horizontal yang lebih besar, ditambah dua hardpoint di bagian dagu, radar AN/APG-66 yang lebih baru, dan menambah kapasitas hardpoint bawah sayap. F-16 diberikan radio UHF Have Quick II. Blok 15 adalah varian F-16 yang paling banyak diproduksi, yaitu 983 buah. Produksi terakhir dikirim pada tahun 1996 ke Thailand. Indonesia memiliki varian ini sebanyak 12 unit.
    Blok 15 OCU
    Mulai tahun 1987 pesawat Blok dikirim ke dengan memenuhi standar Operational Capability Upgrade (OCU), yang mencakup mesin F100-PW-220 turbofans dengan kontrol digital, kemamampuan menembakkan AGM-65, AMRAAM, dan AGM-119 Penguin, serta pembaruan pada kokpit, komputer, dan jalur data. Berat maksimum lepas landasnya bertambah menjadi 17.000 kg. 214 pesawat menerima pembaruan ini, ditambah dengan beberapa pesawat Blok 10.
    Blok 20
    150 Blok 15 OCU untuk Taiwan dengan tambahan kemampuan yang serupa dengan F-16 C/D Blok 50/52: menembakkan AGM-45 Shrike, AGM-84 Harpoon, AGM-88 HARM, dan bisa membawa LANTIRN. Komputer pada Blok 20 diperbarui secara signifikan, dengan kecepatan proses 740 kali lipat, dan memori 180 kali lipat dari Blok 15 OCU.



    Spesifikasi (F-16C Blok 30)


    Orthographically projected diagram of the F-16.





    Karakteristik umum
    Kru: 1
    Panjang: 49 ft 5 in (14.8 m)
    Lebar sayap: 32 ft 8 in (9.8 m)
    Tinggi: 16 ft (4.8 m)
    Area sayap: 300 ft² (27.87 m²)
    Airfoil: NACA 64A204 root and tip
    Berat kosong: 18,238 lb (8,272 kg)
    Berat terisi: 26,463 lb (12,003 kg)
    Berat maksimum lepas landas: 42,300 lb (16,875 kg)
    Mesin: 1× Pratt & Whitney F100-PW-220 afterburning turbofan
    Dorongan kering: 14,590 lbf (64.9 kN)
    Dorongan dengan afterburner: 23,770 lbf (105.7 kN)
    Alternate powerplant: 1× General Electric F110-GE-100 afterburning turbofan
    Dry thrust: 17,155 lbf (76.3 kN)
    Thrust with afterburner: 28,985 lbf (128.9 kN)
    Performa
    Kecepatan maksimum: >Mach 2 (1,320 mph, 2,124 km/h) at altitude
    Radius tempur: 340 mi (295 nm, 550 km) on a hi-lo-hi mission with six 1,000 lb (450 kg) bombs
    Jarak jangkau ferri: >3,200 mi (2,800 nm, 4,800 km)
    Batas tertinggi servis: >55,000 ft (15,000 m)
    Laju panjat: 50,000 ft/min (260 m/s)
    Beban sayap: 88.2 lb/ft² (431 kg/m²)
    Dorongan/berat: F100 0.898; F110 1.095
    Persenjataan
    Senjata api: 1× 20 mm (0.787 in) M61 Vulcan gatling gun, 511 rounds
    Roket: 2¾ in (70 mm) CRV7
    Rudal:
    Air-to-air missiles:
    6× AIM-9 Sidewinder or
    6× AIM-120 AMRAAM or
    6× Python-4
    Air-to-ground missiles:
    6× AGM-65 Maverick or
    4× AGM-88 HARM
    Anti-ship missiles: 4× AGM-119 Penguin
    Bom:
    2× CBU-87 cluster
    2× CBU-89 gator mine
    2× CBU-97
    4× GBU-10 Paveway
    6× GBU-12 Paveway II
    6× Paveway-series laser-guided bombs
    4× JDAM
    4× Mk 80 series
    B61 nuclear bomb
    Lainya:
    SUU-42A/A Flares/Infrared decoys dispenser pod and chaff pod or
    AN/ALQ-131 & AN/ALQ-184 ECM pods or
    LANTIRN, Lockheed Martin Sniper XR & LITENING targeting pods or
    up to 3× 300/330/370 US gallon Sargent Fletcher drop tanks for ferry flight/extended range/loitering time.
    Avionik
    AN/APG-68 radar

    Minggu, 19 Agustus 2012

    BOM MOLOTOV


    bom sederhana
    Molotov adalah sebuah bom bakar yang terbuat dari sebuah botol yang biasa diisi oleh bensin dan diberikan sumbu. Bom ini hanya memberikan efek terbakar karena sebelum dilemparkan bom sumbu dibakar terlebih dahulu.
    Bom ini awalnya digunakan oleh para pejuang Finlandia dalam upayanya menahan invasi Uni Soviet dalam perang musim dingin 30 November 1939. Bom atau granat sederhana ini cukup ampuh terutama dalam menjebak dan merusak tank-tank Uni Soviet, yang memaksa awak tank lawan untuk keluar dari tank dan menghadapi dua ancaman sekaligus, serangan tembakan pasukan Finlandia dan musim dingin Finlandia yang ganas.
    Dikatakan Bom Molotov awalnya adalah gurauan atau sindiran dari rakyat-pejuang Finlandia terhadap serangan udara Uni Soviet yang menjatuhkan bom di wilayah Finlandia yang menyebutkan bahwa bom-bom itu adalah "roti tangkup Molotov". Nama Molotov yang dimaksud adalah Vyacheslav Molotov, nama menteri luar negeri Uni Sovet pada masa pemerintahan Joseph Stalin, yang menandatangani perjanjian baik dengan Jerman/pemerintahan Nazi dengan menteri luar negerinya Joachim von Ribbentrop, maupun dengan menteri luar negeri Jepang, Matsuoka yang dikenal dengan Perjanjian Molotov-Matsuoka dimana isinya adalah Soviet menyatakan netral baik dengan Jepang maupun Jerman dengan imbalan bagian timur Polandia.
    Untuk melengkapi "roti tangkup Molotov", rakyat Finlandia memberinya sebuah bom botol sebagai "cocktail" pelengkap hidangan. Yang dikenal dengan "Molotov Cocktail" atau "Bom Molotov".
    bom sederhana
    bom molotov

     Meski sederhana, senjata ini cukup ampuh baik dalam perang khususnya dikalangan gerilyawan bahkan teroris.

    SEJARAH SENAPAN ANTI TANK


    Senapan anti tank lahir di penghujung perang dunia I ketika pasukan Jerman harus menghadapi penemuan baru Inggris yaitu Tank. Karena susahnya komunikasi pada waktu itu dan sulitnya memobilisasi artileri dalam waktu cepat untuk menghadapi tank, maka diciptakanlah sebuah senjata yang relatif ringan, mudah di mobile dan mampu menembus dinding tank.

    Karena Jerman adalah negara pertama yang mengetahui "business end"nya Inggris yaitu tank, maka merekalah yang pertama kali mengembangkan senjata praktis untuk melawan tank yaitu TANK ABWEHR GEWER (Senapan Anti Tank) yang dikenal sebagai MAUSER T-GEWEHR. Senjata ini pada dasarnya sama saja dengan senapan konvensional hanya saja dirancang khusus dengan amunisi yang lebih besar yaitu 13mm yang mampu menembus lapisan tank Inggris kontemporer (ketebalan sekitar 12 mm) setidaknya menyebabkan dampak/kerusakan pada kru dan peralatan tank.
    Pasukan Inggris dengan .55 (13.9mm) Senapan Anti Tank BOYS
    senapan anti tank rusia
    Pasukan Sovyet dengan 14.5mm. Senapan Anti Tank PTRD.
    T-GEWEHR menjadi pedoman untuk perkembangan senjata sekelasnya. Ukuran senapan anti tank ini terbilang cukup signifikan yaitu antara 1,5m s/d 2m atau bahkan lebih. Beberapa dari varian senapan anti tank ini mampu menembus ketebalan 300mm lapis baja pada kisaran 100m dan menjadikannnya masih cukup ampuh digunakan pada perang dunia II. Kaliber senjata ini berkisar antara 12,7 - 15mm.
    senapan anti tank jerman
    Tentara Jerman dengan 7.92mm Senapan Anti Tank wz.35
    senapan anti tank jerman
    Tentara Jerman dengan 7.92mm-39 Senapan Anti Tank PzB
    Ada 2 inovasi/pemikiran untuk senapan anti tank ini. Yaitu inovasi pertama yang lebih menerapkan kecepatan peluru ketimbang kaliber. Yaitu kecepatan tembak 1100-1200m/s dengan peluru yang relatif ringan antara 12-14gr dengan kaliber 13-15mm. Tingkat recoil/hentakan mundur juga lebih rendah.Senapan anti tank jenis ini mendapat tempat di beberapa lingkup militer seperti Polandia dan Jerman pada awal perang dunia II.

    Inovasi/pemikiran lainnnya lebih menerapkan proyektil yang lebih besar dan berat dengan kaliber kisaran 20mm. Kaliber yang besar memungkinkan untuk digunakan untuk beberapa jenis amunisi termasuk AP dan peledak tinggi menjadikannya sebagai pendukung infanteri yang handal. Beratnya sekitar 40-60kg dengan tingkat recoil yang tinggi pula. Satu hal, tingkat penetrasi yang rendah (lebih rendah dari inovasi pertama) menjadikannya tidak efektif untuk beberapa jenis tank seperti T-34 Sovyet, M4 Sherman dan TIII/TIV Jerman. Tapi masih tetap efektif digunakan sebagai anti tank ringan, mobil lapis baja dan kendaraan angkut personel dan parit-parit perlindungan.
    senapan anti tank
    Tentara dengan senapan Anti Tank Solothurn 20mm S18-100.
    senapan anti tank jepang
    Tentara Jepang dengan senapan Anti Tank 20mm 97
    Perkembangan berbagai hulu ledak, granat anti tank dan peluncur roket pada pertengahan perang dunia ke II, membuat senapan anti tank mulai ditinggalkan. Namun, beberapa waktu kemudian senjata sejenis muncul kembali di kalangan militer tapi bukan lagi sebagai anti tank melainkan sebagai senapan sniper jarak jauh yang dilengkapi dengan optical sight.
    target menembak tank dengan senapan anti tank
    Target Point senapan Anti Tank